E.Cairan, elektrolit dan stress
karena panas
Salah
satu gangguan kesehatan yang dapat diderita oleh para pekerja adalah tekanan
panas (heat stress). Hal ini akan mengancam pekerja dengan lingkungan kerja
bersuhu panas dengan aktivitas yang berat. Tekanan panas (heat stress) akan
memengaruhi suhu tubuh hingga membuat tubuh mengeluarkan cairan lebih banyak. Jika
asupan cairan tubuh tidak dijaga dengan cara menyeimbangkan jumlah cairan yang
keluar, dehidrasi pun akan mengancam. Bahkan, tak hanya dehidrasi saja. Dokter
spesialis kedokeran okupasi, Maya Setyawati, mengatakan ada beberapa tahap dan
gejala tekanan panas (heat stress) yang dirasakah oleh tubuh.
"Penyakit
yang disebabkan heat stres paling awal itu manifesnya masih di kulit. Penguapan
terhambat akhirnya terjadi biang keringat,"
Kondisi
ini disebut dengan heat rash. Biang keringat mungkin terjadi pada sebgaian
kecil area kulit atau bagian tubuh. Meskipun telah diobati, produksi keringat
tidak akan kembali normal dalam waktu 4 sampai 6 minggu di area biang keringat
itu berada.
Gejala
selanjutnya, dengan tingkat tekanan panas (heat stress) yang lebih tinggi
adalah terjadinya heat cramps. Menurut Maya, pada tahap ini terjadi kejang atau
kram pada otot, bahkan bisa sampai pingsan. Hal ini disebabkan karena
ketidakseimbangan cairan dan garam atau elektrolit selama melakukan kerja fisik
yang berat di lingkungan yang panas.
Tahap
yang lebih berbahaya pada paparan panas yang berlebih dapat menyebabkan heat
stroke. Heat stroke merupakan penyakit gangguan panas yang bisa menyebabkan
hilangnya kesadaran dalam waktu yang lama (koma) dan kematian.
Gejalanya
berupa jantung berdetak lebih cepat, suhu tubuh tinggi yaitu sekitar 40 derajat
Celcius, kulit kering, dan tampak kebiruan atau kemerahan, meski panas namun
tidak ditemukan adanya keringat yang keluar dari tubuh, pusing, menggigil,
mual, dan pingsan. Jika tidak cepat diatasi, hal ini akan mengarah pada
kematian.
Kebutuhan Elektrolit
Cairan
tubuh selain mengandung aiar juga mengandung bahan lain yang diperlukan oleh
tubuh seperti elektrolit. Elektrolit dalam cairan tubuh terdiri dari kation dan
anion. Katiaon utama dalam cairan tubuh adalah sodium (Na+) dan potasium (K+),
sedangkan anion utama adalah klorida (Cl-).Sodium merupakan kation yang
terbanyak di dalam cairan ekstra sel dan bertanggung jawab untuk mempertahankan
osmolalitas cairan ekstra sel. Asupan sodium berkisar antara 3 – 8 gram
(130-250 meq) per hari. Makanan sumber utama sodium adalah garam dapur. Selain
itu sodium banyak didapat pada keju dan makanan olahan lainnya. Potasium
merupakan kation terpenting di dalam cairan intra sel. Asupan potasium berkisar
antara 2 – 6 gram (50-150 meq) per hari. Makanan sumber utama potasium adalah
daging, buah-buahan. Secara umum potasium banyak terdapat pada pisang, orange
juice. Keringat merupakan cairan hipotonik dibanding dengan plasma. Konsentrasi
elektrolit dalam keringat juga lebih rendah dibandiong dengan cairan tubuh
lainnya. Sodium dan klorida merupakan elektrolit yang paling banyak ditemukan
dalam keringat, namun jumlahnya hanya sepertiga dari yang ditemukan di plasma.
Sedangkan potasium dan magnesium dalam keringat jumlahnya sangat kecil. Sodium
hilang terutama melalui keringat yang berlebihan. Oleh karena itu atlet yang
mengalami pengeluaran keringat yang sangat banyak harus diperhatikan penggantian
sodium. Hiponatremi yang terjadi pada atlet dapat mengakibatkan penurunan
efisiensi kerja otot sehingga berpengaruh terhadap prestasi olahraga. Potasium
yang hilang melalui keringat jumlahnya sangat sedikit. Potasium yang disimpan
di dalam sel tubuh jumlahnya sangat banyak dan tidak terpangaruh oleh hilangnya
potasium melalui keringat. Beberapa ahli percaya bahwa kehilangan potasium
dalam keringat akan mempengaruhi prestasi olahraga. Konsentrasi sodium dan
potasium pada keringat dipengaruhi oleh jumlah keringat yang keluar.
Berdasarkan hasil penelitian para ahli, jumlah keringat sebanyak 200 ml per jam
menyebabkan kehilangan cairan yang mengandung 12 mmol sodium dan 4 sampai
dengan 5 mmol potasium. Sedangkan keringat sebanyak 1000 ml per jam mengakibatkan
kehilangan cairan yang mengandung 40 mmol sodium dan 4 sampai dengan 5 mmol
potasium.
Penelitian
menunjukkan bahwa suplemen sodium dan potasium tidak diperlukan selama olahraga
yang berlangsung simgkat (1 jam atau kurang). Garam yang tersedia pada makanan
sehari-hari sudah cukup mempertahankan keseim-bangan sodium dan potasium selama
bertanding pada olahraga tingkat sedang.
Cairan
dan Elektrolit pada Olahraga Endurance
Olahraga
endurance yang berlangsung lama di tempat yang panas dapat menyebabkan gangguan
keseimbangan air dan elektrolit. Keseimbangan air dan elektrolit sangat penting
pada atlet cabang olahraga endurance. Oleh karena akan mengganggu produksi
energi dan pengaturan suhu tubuh. Cairan sangat penting untuk mengalirkan zat
gizi dan oksigen ke dalam otot skelet untuk tujuan berkontraksi.
Hasil
penelitian menunjukkan, lari marathon mengeluarkan keringat sebanyak 1 liter
per jam. Sedangkan lari marathon dalam cuaca panas dan kelembaban tinggi dapat
kehilangan keringat sebanyak 2,8 liter per jam. Pelari ultramaraton sejauh 50 mil yang ditempuh
selama lebih dari 8 jam, selain kehilangan air yang banyak juga kehilangan elektrolit.
Penggantian cairan pada atlet endurance
apabila hanya minum air tawar dapat menyebabkan hiponatremi. Oleh karena dalam
tubuh jumlah air dan sodium tidak seimbang. Untuk itu, pemberian cairan harus
mengandung karbohidrat dan elektrolit. Hal ini dimaksudkan selain untuk
mencegah terjadinya hiponatremi, juga untuk mencegah hipoglikemik. Beberapa
penelitian melaporkan bahwa cairan yang mengandung karbohidrat 5-10% tidak
mengganggu atlet. Sedangkan pemberian karbohidrat melebihi 10 % dapat
menimbulkan peningkatan gula darah yang akan merangsang produksi hormon
insulin. Peningkatan hormon insulin dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia. Sedangkan
minuman atlet (sports drinks) yang mengandung suplemen sodium dan potasium yang
berlebihan akan mengganggu kontraksi otot yaitu akan terjadi “cramp” otot.
Selain itu intake sodium yang berlebihan mempunyai risiko tinggi terjadinya
hipertensi pada atlet. Spors drinks umumnya mengandung karbohidrat 5-7%.
Konsentrasi karbohidrat dalam cairan ini secara ilmiah tidak mengganggu proses
pengosongan lambung. Sedangkan, sodium biasanya 10-20 mmol/L dan dapat membantu keseimbangan elektrolit dalam tubuh.
Komentar
Posting Komentar